Catatan Menjelang UN 2016

DSC_0425

Kompetensi Guru NTT Rendah Pengaruhi Perolehan Hasil UN?

Pasti banyak dari pembaca yang tersentuh dengan tulisan saya kali ini, bahkan saya meyakini tak sedikit yang menyayangkan tulisan ini terpampan di media umum online yang dapat dibaca oleh siapa saja dan dimana saja. Apapun alasannya dapat saya pahami. Mari bersama kita telaah pendapat saya.

Semenjak diberlakukannya Ujian Nasional pada tingkatan pendidikan Menengah baik menengah pertama maupun menengah atas atau yang selevelnya, ada banyak sekali cerita dibelakang layar tentang perolehan hasil UN. Dari tingkat sekolah, Kabupaten / Kota hingga Provinsi berlomba – lomba untuk meningkatkan hasil perolehan Nilai UN setiap tahunnya.

Disetiap kali pengumuman hasil UN pasti saja menjadi momok tersendiri tak hanya bagi Pelajar itu sendiri melainkan orang tua, Guru – Guru, Kepala Sekolah, Penjabat di Dinas Pendidikan dan yang terkait, Para Bupati atau Walikota hingga para Gubernur. Mereka semua was-was kalau saja perolehan UN anjlok. Hal ini menjadi sangat penting karena memiliki dampak lanjutanya mulai dari Mutasi dikalangan Pejabat hingga sering sekali menjadi isu politik pergantian Pimpinan Daerah.

Khusus NTT perolehan hasil UN memang sangat menarik untuk di telaah. Mengingat hasil Ujian Nasional para siswa sekolah menengah hampir selalu berada di 10 besar urutan terbawah perolehan hasil UN secara nasional, maka ada banyak sekali analisa yang muncul kemudian perihal penyebab anjloknya hasil Ujian Nasional.

Biasanya siswa itu sendiri berada pada urutan pertama penyebab anjloknya perolehan hasil UN. Pada urutan berikutnya ada Guru, Manajemen Sekolah, Perhatian Dinas dan disusul faktor lainnya. Jika diurutkan demikian, maka tak heran siswa menjadi kambing hitam kegagalan dan tak heran pula bila banyak sekali kasus siswa yang stress hingga menempuh cara-cara tak etis dan normal sebagai dampak lanjutannya.

Jika kita ingin jujur tak elok bila kita mengurutkan penyebab tersebut secara horisontal dan menempatkan siswa pada urutan teratas penyebab utama. Seyogyanya faktor penyebab diurutkan secara vertikal dan menempatkan faktor-faktor tersebut selevel agar semua pihak merasakan beban yang sama. Bila perolehan nilai UN di suatu daerah rendah, baik Sekolah, Dinas terkait, maupun pemerintah hendaknya bertanggung jawab secara bersama dan mencarikan solusi terbaik.

Selama ini, siswa dan orang tua cendrung menjadi pihak yang paling disalahkan. Tak sedikit pula keluarga yang menjadi momok di lingkungan tempat tinggalnya oleh karena anak mereka tidak lulus Ujian Nasional atau memperoleh nilai yang rendah.

Sudah saatnyalah pemerintah merubah pola pandang masyarakat terkait pihak yang paling bertanggung jawab terkait perolehan hasil Ujian Nasional yang rendah. Semua pihak sesuai dengan tanggung jawabnya masing-masing mesti bergerak ke arah perubahan yang lebih baik. Guru sebagai ujung tombak kesuksesan UN di sekolah di mintai tanggung jawab yang lebih.

Melihat betapa krusialnya peran Guru dalam perolehan hasil Ujian Nasional, Pemerintah pun banyak melakukan perubahan salah satunya dengan peningkatan kompetensi para guru. Berbagai program pelatihan dan lainnya diselenggarakan agar guru semakin profesional dalam menjalankan tugas utamanya. Bahwa akan ada insentif atau penghargaan lebih dalam bentuk tunjangan bagi guru yang profesional itu adalah hal yang lain, tapi hendaknya guru harus semakin meningkatkan kompetensi pribadi masing-masing guru.

Kompetensi Guru berbading lurus dengan kesuksesan Ujian Nasional termasuk perolehan hasil ujian nasional yang baik. Jika kompetensi guru di suatu daerah rendah, maka hampir bisa dipastikan berpengaruh terhadap perolehan hasil UN di daerah itu.

Hal ini terungkap secara implisit dari perolehan hasil Uji Kompetensi Guru 2015 yang menempatkan rata-rata perolehan hasil UKG Guru di NTT berada di bawah Standar Kompetensi Minimum (SKM) yang ditargetkan secara nasional yakni 55.  Secara nasional, ada tujuh provinsi yang memperoleh nilai di atas SKM antara DI Yogyakarta (62,58), Jawa Tengah (59,10), DKI Jakarta (58,44), Jawa Timur (56,73), Bali (56,13), Bangka Belitung (55,13), dan Jawa Barat (55,06).

Uji kompetensi guru (UKG) tahun 2015 menguji kompetensi guru untuk dua bidang yaitu pedagogik dan profesional. Rata-rata nasional hasil UKG 2015 untuk kedua bidang kompetensi itu adalah 53,02. Selain tujuh provinsi di atas yang mendapatkan nilai sesuai standar kompetensi minimum (SKM), ada tiga provinsi yang mendapatkan nilai di atas rata-rata nasional, yaitu Kepulauan Riau (54,72), Sumatera Barat (54,68), dan Kalimantan Selatan (53,15).

Jika kita perhatikan urutan di atas, perolehan hasil Uji Kompetensi Guru per Provinsi hampir sama dengan urutan perolehan hasil Ujian Nasional peserta didik. Sebut saja Yogyakarta, Jawa Tengah, DKI, dan lainnya adalah provinsi – provinsi dengan perolehan hasil UN siswa yang tinggi hampir setiap tahunnya.

Lalu bagaimana dengan NTT? Dalam rilis daftar provinsi pemeroleh hasil UKG 2015, NTT tidak termasuk dalam provinsi dengan perolehan UKG di atas rata-rata nasional. Kemdiknas sendiri tidak merilis secara keseluruhan namun hanya tujuh provinsi dengan rata-rata raihan tertinggi dan tiga provinsi lainnya memperoleh rata-rata nilai UKG di atas rata-rata Nasional. Hampir dapat dipastikan perolehan hasil UKG 2015 provinsi NTT berada di bawah rata-rata Nasional.

Apakah ini yang menjadi salah satu penyebab rendahnya perolehan hasil Ujian Nasional Siswa selama ini? Jika kita ingin jujur tentu kita katakan Ya. Selain faktor pelajar itu sendiri, guru pun turut andil. Hasil UKG membuktikan hal ini.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, jika dirinci lagi untuk hasil UKG untuk kompetensi bidang pedagogik saja, rata-rata nasionalnya hanya 48,94, yakni berada di bawah standar kompetensi minimal (SKM), yaitu 55. Bahkan untuk bidang pedagogik ini, hanya ada satu provinsi yang nilainya di atas rata-rata nasional sekaligus mencapai SKM, yaitu DI Yogyakarta (56,91).

“Artinya apa? Pedagogik berarti cara mengajarnya yang kurang baik, cara mengajarnya harus diperhatikan,” ujar Pranata usai konferensi pers akhir tahun 2015 di Kantor Kemendikbud, Jakarta, (30/12/2015).

Bisa jadi karena cara mengajar Guru selama ini kurang baik, maka dampaknya adalah hasil UN NTT selalu rendah? Mari kita menjawab sesuai dengan tugas dan tanggung jawab kita. Jika Anda adalah siswa, tepatkah demikian? Jika Anda adalah Guru, benarkah demikian? Jika Anda adalah Pejabat pada Dinas terkait atau pada Pemerintahan mungkinkah demikian?

Bagi Guru dan Sekolah, masih sekitar 2 bulan untuk membuktikan jika tidak demikian. Mari sehati sesuara bergandeng tangan meningkatkan perolehan hasil UN yang lebih baik, tentunya dengan cara yang bernurani.

About historysubject

Let's Get To Learn History

Posted on January 8, 2016, in Education. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: