Pergolakan Kala Enam Bulan RI Merdeka

Pertentangan dinilai bukan masalah, melainkan cara menuju negara yang lebih baik.

 

soekarno,17 agustus 1945,indonesia merdeka
Ir. Soekarno (Bung Karno) didampingi Drs. Mohammad Hatta (Bung Hatta) memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi di Pegangsaan Timur 56 Jakarta (sekarang jalan Proklamasi). (Wikimedia Commons)

Agustus selalu menjadi bulan “sakral” bagi masyarakat Indonesia. Para warganya hafal betul betapa pada bulan tersebut tercantum tanggal kemerdekaan mereka dari bentuk kolonialisasi.

Untuk bisa melangkah ke perayaan kemerdekaan ke-68 pada tahun 2013 ini, dibutuhkan pengorbanan. Enam bulan pertama kemerdekaan misalnya, di mana Republik ini dirongrong percobaan Belanda kembali berkuasa dan penolakan oposisi dari dalam.

Rongrongan dari luar membuat kondisi Jakarta pada awal Januari 1946 tidak lagi kondusif. Pemerintah RI akhirnya memutuskan pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke DI Yogyakarta. Sekalipun demikian, Perdana Menteri Syahrir tetap berada di Jakarta untuk mempermudah mengadakan hubungan dengan dunia internasional demi kepentingan perjuangan. Pada belahan barat Indonesia, Ibu Kota Provinsi Sumatra juga telah dipindahkan dari kota Medan ke Bukittinggi.

Dari sisi dalam, banyak kebijakan Pemerintah Indonesia yang ditentang warganya sendiri. Salah satu wujudnya adalah front oposisi bernama Persatuan Perjuangan yang diketuai Tan Malaka. Mereka menentang kebijaksanaan Pemerintah yang membuka kesempatan berunding dengan pihak Belanda. Pihak ini lebih menyukai terus bertempur sampai penjajah pergi.

Kala 15 Januari 1946, Persatuan Perjuangan telah menyusun programnya yang berisi, pertama, berunding atas pengakuan kemerdekaan seratus persen. Kedua, pembentukan pemerintah rakyat. Ketiga, pembentukan tentara rakyat.

Keempat dan kelima yakni melucuti tentara Jepang dan menyita serta menyelenggarakan pertanian dan perkebunan milik musuh. Terakhir, menyita dan menyelenggarakan perindustrian milik musuh.

Namun, di mata D Soeprapto, Wakil Pemimpin ,,Soeara Rakjat“, penerbitan Modjokerto, nampaknya melihat sikap oposisi itu tiada masalah. Seperti dikutip dari tulisannya berjudulRepoeblik Indonesia dipandang dari dalam.

“Djiwa Indonesia jang berabad-abad merasa terikat pada detik peringatan [pernyataan kemerdekaan] itoe, merasa bebas dan menghilangkan semoea perasaan jang membelenggu djiwa rakyat. Sedjak itoe terlihat dengan tegas berkembangnja segala sifat-sifat jang baik dan jang diarahkan kepada toedjoean pembangoenan negara jang bahagia.”

Ditegaskan kembali oleh Soenarjo, Pemimpin Redaksi ,,Berdjoeang” bahwa wajib dicamkan di masa yang genting (enam bulan pertama kemerdekaan) tak ada kepentingan yang lebih besar dari pada kepentingan bangsa.
(Zika Zakiya. Sumber: Enam Boelan Merdeka, Album Perang Kemerdekaan 1945-1950)

Source: nationalgeographic.com

About historysubject

Let's Get To Learn History

Posted on July 30, 2013, in KNOWLEDGE. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: